Rabu, 15 Oktober 2008

Nabung Emas

Nabung Emas Oke Juga

Emas adalah jenis tabungan yang telah disimpan orang selama ribuan tahun. Anda pasti pernah melihat koleksi perhiasan emas yang disimpan orangtua. Generasi sebelum Anda, mulai kakek-nenek hingga orangtua memang terbiasa menyimpan emas. Mereka menyimpan emas bukan sekadar bertujuan untuk koleksi dan dipakai ketika ada acara. Penyimpanan emas digunakan juga sebagai tabungan yang bisa dicairkan kapan saja ketika dibutuhkan. Menyimpan emas sebagai tabungan memang sudah menjadi tradisi yang sudah berlangsung selama ribuan tahun. Hal ini dilakukan berabad-abad bukan tanpa alasan. Emas tak ubahnya seperti wine, semakin lama disimpan harganya akan semakin tinggi. Perlahan tapi pasti harga emas memang selalu naik. Jarang sekali emas mengalami penurunan harga. Emas adalah pilihan investasi menarik bagi siapapun. Keuntungan investasi emas adalah daya tahannya yang kuat terhadap inflasi. Emas tak pernah rontok harganya karena inflasi, justru sebaliknya. Ketika inflasi naik harga emas ikut naik. Semakin tinggi inflasi, semakin tinggi pula kenaikan harga emas yang Anda miliki.

Hal itulah yang melatarbelakangi orang untuk membeli emas ketika terjadi inflasi. Pembelian emas dalam skala besar terjadi ketika krisis ekonomi menerpa Indonesia pada 1998. Hal itu sudah dilakukan pula oleh generasi sebelum Anda, bahkan di negara-negara lain. Ketika Jepang melakukan invasi ke China, pembelian emas juga melonjak tinggi dan pilihan tersebut terbukti benar, karena ketika keadaan normal emas simpanan bisa segera dijual dengan harga tinggi. Tapi sebelum berinvestasi emas, Anda sebaiknya menimbang dulu jenis emas apa yang akan Anda pilih. Jangan sampai salah pilih, karena bisa jadi investasi yang dipilih kurang tepat dan tidak memberikan keuntungan maksimal. Berinvestasi emas tak ubahnya investasi lain seperti saham dan reksadana. Pemilihan ‘portofolio’ yang tepat akan menentukan keuntungan yang akan didapat. Aturan pertama adalah memilih karat yang tinggi. Di pasaran, diperdagangkan emas mulai dari 18 sampai 24 karat. Semakin tinggi karatnya, berarti semakin murni kandungannya dan hal tersebut semakin baik juga sebagai investasi. Sebab, emas dengan karat semakin tinggi, nilainya lebih stabil dan lebih mudah dijual jika suatu saat membutuhkan uang.
Selain kadar emasnya, pemilihan bentuk emas pun sangat penting. Setidaknya ada tiga pilihan bentuk emas yaitu batangan, koin, dan perhiasan. Untuk investasi, pilihan terbaiknya adalah emas batangan dan koin. Kedua bentuk ini dari waktu ke waktu tidak mengalami perubahan bentuk. Sehingga tidak terjadi penurunan harga. Sementara emas dalam bentuk perhiasan bisa mengalami penurunan harga. Hal ini disebabkan ada ongkos produksi dan modelnya bisa jadi sudah tidak up to date. Misalnya Anda sekarang membeli cincin model terbaru. Sepuluh tahun kemudian, model tersebut bisa jadi sudah ketinggalan jaman dan tidak banyak yang minat. Karena itulah mengapa investasi emas batangan dan koin lebih menguntungkan. Agar investasi emas yang Anda pilih lebih aman, sebaiknya Anda tidak menyimpan di rumah. Faktor keamanan merupakan titik lemah investasi emas, karena dianggap mudah dicuri dibanding tabungan di bank. Tapi hal tersebut sudah ada solusinya. Menyimpan emas sekarang bisa sama amannya dengan tabungan dan deposito. Anda bisa menyimpan di bank dengan save deposit box. Jadi Anda pun tak perlu lagi khawatir barang berharga Anda akan kecolongan

Senin, 13 Oktober 2008

Kenapa harga emas bisa Turun?


Mengapa Harga Emas Bisa Turun ?
Oleh : Muhaimin Iqbal
Allah menciptakan segala sesuatu sesuai ukurannya dan emasdiciptakanNya secara terbatas. Di seluruh Dunia saat inihanya ada sekitar 150,000 ton emas di permukaan bumi. Yangdigali dari pertut bumi setiap tahun hanya menambah emasdi permukaan bumi sekitar 1.5% per tahun – sesuai denganlaju pertumbuhan penduduk dunia.
Dengan keterbatasan emas tersebut, mengikuti hukum pasarsupply & demand sudah seharusnya harga emas naik terusapabila diukur dengan uang kertas. Kenyataannya dalamjangka panjang memang demikian. Namun dalam jangka pendek,sebulan dua bulan, setahun dua tahun bisa saja harga emasturun.
Seluruh pemerintahan di dunia menggunakan ukuran uangkertas sebagai dasar penilaian kinerjanya. Kalau hargaemas dibiarkan terus naik dan orang mulai mnggunakan emassebagai rujukan nilai, maka nilai seluruh mata uang duniaakan kelihatan terus merosot dengan sangat serius. Inilahyang tidak dikehendaki oleh para penguasa dunia.
Lantas apa yang mereka lakukan ? dari waktu ke waktupemerintahan di dunia menggunakan cadangan emasnya untukmempengaruhi harga emas di pasar bebas. Namun karena emasini benda riil yang harus diperoleh dari upaya riil, bedadengan uang kertas yang bisa mereka cetak kapan saja–berapa saja; maka kemampuan mereka mempengaruhi hargapasar ini makin lama makin melemah seiring denganmenurunnya cadangan emas mereka.
Coba perhatikan grafik disamping yang datanya saya olahdari data Gold Anti Trust Action Committee (GATA);cadangan emas yang dimiliki oleh seluruh Bank Sentral DiDunia kalau dijumlahkan mengalami penurunan yang sangatsignificant dalam seperempat abad terakhir. Bukankahseharusnya naik karena penduduknya naik dan jumlah emas dipermukaan bumi juga naik seiring pertambahan penduduk ? .Inilah jawababnnya; para Bank Sentral dunia tidak mampumenambah cadangan emasnya, dan bahkan mereka harusmenggunakan cadangan yang ada untuk mempengaruhi hargaemas di pasar bebas sehingga seolah-olah mata uang kertasmereka masih bernilai.
Ini bukan hanya sinyalemen saya, ada yang sudah sangatterbuka mengungkap hal ini yaitu GATA.
Minggu lalu muncul sebuah iklan besar di Wall StreetJournal dengan judul “Anybody Seen Our Gold ?”. Iklan inidi sponsori oleh Gold Anti Trust Action Committee (GATA).Isi dari iklan panjang ini intinya ingin mengungkapberbagai kecurangan pemerintahan di seluruh dunia dalammempermainkan harga emas. Berikut adalah terjemahan bebasdari beberapa point penting yang dimuat di iklan tersebut.
“Cadangan emas di Amerika Serikat sudah tidak lagi diaudit secara penuh dan independent selama lebih darisetengah abad terakhir. Sekarang terdapat bukti bahwacadangan emas tersebut, juga yang dimiliki olehnegara-negara barat, telah digunakan secarasembunyi-sembunyi untuk memanipulasi mata uanginternasional, pasar komoditi, pasar saham dan pasar suratberharga.
Federal Reserve Chairman waktu itu – Alan Greenspan,mengaku di depan kongres Amerika Serikat 24/7/1998 bahwaBank Central akan ‘meminjamkan’ emasnya untuk menambahjumlah emas apabila harga emas naik.
Dengan upaya menekan harga emas yang bagaimanapun, hargaemas telah mencapai US$ 900/ounce; Apabila harga emasdibiarkan bebas mengikuti mekanisme pasar – maka hargaemas bisa mencapai US$ 3000 – US$ 5,000 /ounce.
Tujuan dari manipulasi harga emas adalah untukmenyembunyikan kegagalan Dollar Amerika dan untukmempertahankan kedudukan Dollar Amerika sebagai cadangandevisa bagi hampir seluruh negara.
Permainan harga emas oleh pemerintah akan membawa bencanabagi dunia, oleh karenanya harus dihentikan.”
Jadi berhati-hatilah kita semua, ada kekuatan yang sangatbesar sedang bertarung di pasar dunia. Tetapi Allah MahaBesar, Cukuplah Allah Sebagai Pelindung dan DialahSebaik-baik Pelindung.

Selasa, 29 Juli 2008

kemilau Investasi Emas


JAKARTA, SENIN - Sebuah analisis yang dirilis tahun 2003 menyebutkan, pada 10-12 tahun mendatang harga emas akan mencapai 8.000 dollar AS per troy ounce. Harga itu diperkirakan akan terjadi pada 2013-2015 sehingga bila pada 2007 seseorang menginvestasikan Rp 200 juta untuk emas, maka pada 2013-2015 kelak ia akan memiliki emas senilai Rp 2,2 miliar. Dengan kata lain ia meraup untung dari kenaikan harga yang mencapai 1.112 persen.
Jika hal itu terjadi, maka tidak ada instrumen investasi yang bisa mengalahkan keperkasaan emas, bahkan deposito, saham, maupun ORI sekalipun. Konsultan manajemen sekaligus motivator ternama, Tung Desem Waringin, sejak dulu hingga kini selalu berpendapat bahwa emas merupakan investasi teraman dan paling menguntungkan. "Sejak 2002 saya sudah bilang emas itu investasi paling menguntungkan," katanya.
Pengusaha sukses itu bahkan "mencabut" investasinya di sektor infrastruktur untuk dialihkan ke emas. Ia bersikukuh bahwa tindakan yang dilakukannya benar meskipun banyak orang memilih sektor infrastruktur sebagai instrumen investasi utama. Hal itu karena tren emas sejak zaman dahulu hingga detik ini selalu mengalami kenaikan harga. Namun, untuk kondisi pasar saat ini, ia masih menyarankan calon investor untuk wait and see. "Saat ini pasar masih bergejolak, jadi lebih baik wait and see sebelum memutuskan untuk terjun ke emas," katanya. Tercatat kenaikan harga emas paling fantastis terjadi pada 2001 di mana pada saat yang sama mata uang kertas justru mengalami penurunan nilai. Proses kenaikan harga emas itu akan semakin dipercepat oleh laju inflasi dan abusing dollar AS saat ini. Itu karena emas tidak mempunyai efek inflasi atau zero inflation effect. Memang logam mulia bernama emas sepertinya tidak akan pernah lekang dimakan zaman. Kemuliaan dan kemilaunya tetap saja memukau, termasuk bagi dunia investasi. Emas merupakan komoditas yang unik yang jumlahnya terbatas di dunia serta merupakan satu-satunya barang yang dapat ditambang di atas permukaan bumi. Emas juga merupakan alternatif uang kertas dengan daya beli yang abadi dan nilainya cenderung dipatok oleh pasar.
Kagak ada matinya
Pilihan investasi emas saat ini tetap dinilai paling menguntungkan dibandingkan opsi yang lain mengingat sifatnya yang "kebal" inflasi. "Investasi emas ibaratnya kagak ada matinya, alias selalu menguntungkan," kata pengamat ekonomi, A Tony Prasetiantono. Menurutnya, , berinvestasi emas sama sifatnya dengan menginvestasikan dana untuk membeli tanah dan properti di kota-kota tertentu di Indonesia, seperti Bali dan Yogyakarta, yang harganya terus-menerus naik. Emas juga sangat baik untuk diversifikasi investasi setelah memiliki investasi di saham, obligasi, reksadana, ataupun properti. Terlebih di beberapa negara penghasil emas belakangan ini mengalami penurunan produksi secara signifikan sehingga harga emas dipastikan akan selalu naik.
"Namun, investasi emas juga ada beberapa kelemahannya," kata Tony. Menurut dia, calon investor juga harus mempertimbangkan banyak hal untuk mulai menginvestasikan dananya dalam bentuk emas karena relatif tidak praktis atau sulit disimpan, berisiko hilang, dicuri atau dirampok, dan lain-lain. Selain itu, bila penyimpanan kurang baik memungkinkan terjadinya oksidasi dan perubahan warna. Khusus emas berbentuk koin kalau terjatuh sulit untuk di-treatment ulang dan bisa mengurangi harga. Kekurangan lain, return-nya relatif stabil dan kalah menggairahkan bila dibandingkan saham atau properti. Investasi emas juga sangat tidak disarankan untuk jangka pendek karena sifatnya sebagai pelindung nilai (hedging). "Oleh karena itu, emas biasanya menjadi salah satu pilihan portofolio yang favorable," katanya.
Pengamat investasi, Roy Sembel, dalam salah satu tulisannya mengatakan, permintaan emas akan melonjak bila terjadi dua hal, yaitu kondisi negara tidak menentu dan terjadi inflasi. "Jika kedua hal itu terjadi, maka ketertarikan investor terhadap emas akan naik karena emas dinilai paling aman untuk investasi," katanya.
Senada dikatakan pakar investasi Safir Senduk, yang berpendapat bahwa bila terjadi inflasi tinggi, maka harga emas akan naik lebih tinggi daripada inflasi yang terjadi. Statistik menunjukkan, bila inflasi naik 10 persen, maka harga emas akan naik 13 persen. Jika inflasi naik 20 persen, emas akan naik menjadi 30 persen. Namun, bila inflasi 100 persen, maka emas akan melonjak 200 persen. Patut dipertimbangkan pula harga emas akan cenderung konstan bila laju inflasi rendah bahkan ada kecenderungan menurun bila laju inflasi di bawah dua digit.
Diversifikasi emas
Tony Prasetiantono mengatakan, saat ini orang tidak harus menyimpan emas dalam bentuk fisik saat berinvestasi ,tetapi juga bisa menyimpannya dalam bentuk lain yang kini semakin bervariasi. Di antaranya dalam valas, saham, obligasi, dan lain-lain. "Investasi emas saat ini telah mengalami diversifikasi yang lebih luas," katanya. Bentuk emas paling umum adalah batangan menyerupai batu bara berkadar 95 persen atau 99 persen (24 karat). Jenis ini dinilai paling menguntungkan untuk investasi karena kapan pun dan di manapun dijual, harganya mengikuti standar internasional. Bentuk lain adalah koin yang ada baiknya saat membelinya pilih produk dari produsen ternama seperti Maples, Krands, atau Eagles.
Ada juga emas yang berbentuk perhiasan. Bentuk ini sebenarnya kurang menguntungkan untuk investasi karena investor harus menanggung harga pembuatan dan sifatnya subyektif sesuai selera. Koin emas ONH juga merupakan bentuk lain investasi emas. Hanya saja bentuk emas ini sifatnya lokal dan kurang mendapat perhatian dunia. Ada pula yang menawarkan tabungan berbentuk emas untuk keperluan investasi jangka panjang, misalnya Bank Syariah Mandiri dan HSBC Syariah.
Untuk membeli dan menjual emas bisa dilakukan di toko emas atau Perum Pegadaian. Sementara itu, untuk tren dan perkembangan harga emas dunia terkini dapat dilihat di situs Kitco, Gold Price, atau UBC Gold.
Sangat disarankan, investor membeli emas di PT Antam unit Pengelolaan dan Pemurnian Logam, Jalan Pemuda, Pulogadung, Jakarta Timur. Dan lebih disarankan lagi untuk selalu meneliti sertifikat berupa kertas kecil berhologram dan kuitansinya. Setelah itu cocokkan dengan fisik emas yang dibeli. Umumnya tercantum kode 9999 atau 24 karat, nomor seri, dan berat logam dengan cetakan tenggelam dan logo pembuatnya. Penyimpanan emas bila jumlahnya tidak banyak cukup ditempatkan di rumah. Namun, bila jumlahnya banyak dan untuk pertimbangan keamanan, investor dapat menyewa safe deposit box yang ada di setiap bank.
Di balik kemilau investasi emas yang menggiurkan, ada sebagian yang justru berpendapat bahwa emas bukan instrumen yang tepat untuk investasi. Emas cenderung merupakan alat spekulasi karena tidak menghasilkan revenue stream. Nilai emas hanya semata-mata tergantung pada persepsi yang mudah sekali berubah. Di luar itu emas adalah logam yang nyaris tidak berfaedah secara langsung.

Sumber : Antara

Selasa, 22 Juli 2008

Analisa harga Emas

Dampak Ketegangan AS-Irak dan Analisis Investasi Emas

Andam Dewi



SEIRING dengan belum putusnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Irak, harga emas belakangan ini berfluktuasi secara tajam. Ini terjadi karena banyak investor mengalihkan sebagian alokasi investasinya ke dalam jenis investasi emas yang dianggap aman.

AWAL Februari lalu, ketika tekanan AS memanas terhadap Dewan Keamanan (DK) PBB mengambil tindakan tegas terhadap Irak, harga emas naik mencapai titik tertinggi selama tujuh tahun terakhir (dari Agustus 1996), yaitu level 380-390.80 dollar AS per troy ounce (1 troy ounce = 31,1035 gr). Ketika ajakan AS tidak mendapat sambutan dari sebagian besar anggota DK PBB, harga emas kembali melemah ke level 346-370 dollar AS per troy ounce.

Di negara lain yang masyarakatnya sudah maju, kondisi ini membuat bergairah semua jenis investasi emas, termasuk transaksi derivatifnya. Contohnya, transaksi kontrak berjangka emas di Tokyo Commodity Exchange. Ketika berita tekanan AS terhadap DK PBB untuk mengambil sikap terhadap Irak, volume transaksi naik.

Tidak demikian halnya di Indonesia. Sampai kini, transaksi kontrak berjangka emas di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) masih belum dimanfaatkan, baik sebagai sarana lindung nilai (hedging) terhadap fluktuasi harga emas maupun sebagai sarana untuk meraih keuntungan. Ketika harga emas mencapai titik tertinggi pada awal Februari lalu, perdagangan fisik emas mengalami penurunan karena lebih banyak masyarakat yang menjual ketimbang membeli.

Hal ini tentu mengurangi keuntungan yang biasanya didapat para pedagang emas. Jika pedagang emas mengerti bagaimana memanfaatkan transaksi kontrak berjangka emas di BBJ, pedagang akan tetap mendapat kesempatan meraih untung saat perdagangan fisik emas sepi.

Prinsipnya tidak sulit, tetap memegang pakem investasi: beli saat harga rendah dan jual saat harga tinggi (buy low sell high atau sell high buy low). Dengan memanfaatkan pasar berjangka dan pasar fisik emas, pedagang emas bisa memperoleh keuntungan dengan cara: jika harga kontrak berjangka emas lebih murah, beli kontrak berjangka emas dan jual pada pasar fisiknya atau sebaliknya.

Kesempatan memperoleh keuntungan juga tidak tertutup bagi investor yang tidak mempunyai fisik emas. Bermodalkan sekitar 10 persen dari nilai total investasi, investor dapat memperoleh keuntungan melalui posisi beli jika harga emas cenderung naik atau posisi jual jika harga emas cenderung turun.

Perlu diingat, jika cuma ingin mengambil untung dari selisih harga beli dan harga jual, investor harus melikuidasi posisi sebelum kontraknya jatuh tempo. Dengan begitu, investor tidak perlu berhubungan dengan urusan penyerahan fisik emas.

Kontrak Berjangka Emas merupakan salah satu jenis transaksi derivatif. Kontrak Berjangka didefinisikan sebagai perjanjian standar antarpihak yang tidak perlu saling kenal untuk membeli dan menjual produk tertentu pada harga tertentu dengan serah terima produk pada waktu yang diperjanjikan. Seperti transaksi derivatif lainnya yang high risk high return, untuk memperoleh profit yang optimal dan meminimalkan risiko kerugian, sebelum berinvestasi perlu dipahami dan dianalisis pergerakan harga transaksi dasarnya (underlying transaction).

Dalam hal berinvestasi kontrak berjangka emas, yang harus dianalisis secara mendalam adalah pergerakan harga emas di pasar fisik. Harga kontrak berjangka emas sangat ditentukan harga di pasar fisiknya. Harus dipahami, baik pergerakan harga emas dunia yang umumnya mengacu ke pasar fisik emas di London maupun pergerakan harga emas di Indonesia. Dengan memahami pergerakan harga emas di pasar fisiknya, dapat ditentukan harga emas di kemudian hari dengan menghitung ongkos suku bunga pinjam-meminjam, ongkos simpan, dan transportasi.

Dari data pasar fisik emas dunia di London (Grafik-1) terlihat bahwa harga emas setelah krisis moneter tahun 1997/1998 terus mengalami penurunan. Puncak penurunan harga emas terjadi tahun 1999. Harga emas saat itu kian jatuh karena Dana Moneter Internasional (IMF) melego cadangan emasnya untuk untuk membantu negara yang krisis. Saat itu, harga emas di pasar dunia tinggal sekitar 254 dollar AS per troy ounce.

Harga emas mulai bergerak naik secara signifikan sejak tragedi runtuhnya menara kembar World Trade Center (WTC) di New York, AS, pada bulan September 2001. Sepanjang tahun 2001, harga emas rata-rata 271,04 dollar AS per troy ounce. Harga emas terus meningkat pada tahun 2002 pada kisaran rata-rata 309,37 dollar per troy ounce. Penguatan itu terus berlanjut di tahun 2003 karena masih belum terselesaikannya masalah antara AS dan Irak.

Saat ini ada dua hal penting yang sangat mempengaruhi pergerakan harga emas, yaitu :

Perubahan kurs

Melemahnya kurs dollar AS biasanya mendorong kenaikan harga emas dunia. Hal ini karena jatuhnya nilai mata uang dollar membuat harga emas menjadi lebih murah dalam mata uang lain sehingga umumnya mendorong adanya kenaikan permintaan emas, terutama dari sektor industri perhiasan. Di Indonesia (Grafik-2), pada pertengahan tahun 2001, ketika mata uang rupiah mengalami penguatan yang cukup signifikan, harga emas logam mulia (LM) pun menurun. Demikian pula ketika rupiah melemah, harga emas LM pun meningkat. Di awal tahun 2003, perbedaan kurs USD/IDR (dollar AS terhadap rupiah) dengan harga emas LM semakin melebar karena di samping harga emas di pasaran dunia tinggi, nilai dollar AS pun melemah.

Situasi politik dunia

Kenaikan harga emas pada akhir tahun 2002 dan awal tahun 2003 terjadi sebagai dampak dari akan dilakukannya serangan ke Irak oleh sekutu yang dikomando AS. Pelaku pasar beralih investasi dari pasar uang dan pasar saham ke investasi emas sehingga permintaan emas melonjak tajam.

Dibandingkan investasi di pasar saham yang cenderung menurun, saat ini tingkat keuntungan yang didapat sekitar 5 persen per tahun, investasi emas dapat menghasilkan tingkat keuntungan sekitar 15 sampai 20 persen per tahun. Walaupun saat ini harga emas sedang terkoreksi, belum adanya titik terang penyelesaian antara AS dan Irak membuat harga emas berpotensi kembali menguat sampai masalah selesai. Saat ini pengaruh terbesar pergerakan harga emas adalah situasi politik dunia.

Faktor lain yang juga dapat dipertimbangkan sebagai hal yang dapat mempengaruhi pergerakan harga emas, sbb :

Suplai dan permintaan

Salah satu contoh hal yang dapat mempengaruhi suplai dan permintaan (supply and demand) dari emas adalah seperti kejadian pada pertengahan tahun 1980. Pada saat itu, penjualan forward oleh perusahaan pertambangan selalu dipersalahkan atas terjadinya kenaikan pada harga emas. Dalam kerangka bisnis, sebenarnya perilaku perusahaan pertambangan tersebut masuk akal. Dengan melakukan penjualan forward ketika harga emas menguat, mereka dapat mengamankan harga output tambang pada harga yang cukup menarik.

Contoh lainnya, kasus pada pertengahan tahun 1998 di mana harga emas terus merosot. Saat itu, bank-bank sentral di Eropa menyatakan akan mengurangi cadangan emasnya sehubungan rencana pemberlakuan mata uang euro. Harga emas langsung anjlok di sekitar 290 dollar per troy ounce.

Situasi ekonomi

Sekitar 80 persen dari total suplai emas digunakan industri perhiasan. Konsumsi perhiasan merupakan pengaruh yang besar pada sisi permintaan.

Ketika kondisi ekonomi meningkat, kebutuhan akan perhiasan cenderung naik. Namun, dari data statistik terlihat kebutuhan akan perhiasan lebih sensitif terhadap naik turunnya harga emas dibanding kan meningkatnya kondisi ekonomi.

Jatuhnya tingkat kebutuhan perhiasan pada masa resesi di tahun 1982-1983 terutama akibat naiknya harga emas secara simultan. Jatuhnya tingkat kebutuhan perhiasan di masa resesi awal 90-an lebih selaras dengan hal di atas, pada saat itu harga emas menjadi turun.

Situasi ekonomi yang tidak menentu dapat mengakibatkan inflasi tinggi. Emas biasa digunakan sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi. Manfaat ini sudah dirasakan investor sejak lama. Dengan emas, investor mendapat perlindungan sempurna terhadap merosotnya daya beli. Ketika tahun 1978-1980 harga emas sedang booming; sementara inflasi di AS naik dari 4 persen menjadi 14 persen, harga emas naik tiga kali lipat.

Akan tetapi, sejak saat itu, emas tidak lagi terlalu efektif secara sempurna digunakan sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi. Di Indonesia (Grafik 3), dari data yang didapat, tingkat inflasi tidak mempengaruhi harga emas. Harga emas lebih banyak dipengaruhi kurs rupiah terhadap dollar.

Suku bunga

Ketika tingkat suku bunga naik, ada usaha yang besar untuk tetap menyimpan uang pada deposito ketimbang emas yang tidak menghasilkan bunga (non interest-bearing). Ini akan menimbulkan tekanan pada harga emas. Sebaliknya, ketika suku bunga turun, harga emas akan cenderung naik.

Secara teori, jika suku bunga jangka pendek naik, harga emas turun. Di Indonesia teori ini tidak selalu berjalan.

Pada tahun 1998, karena nilai tukar rupiah merosot tajam terhadap mata uang dollar AS, pemerintah menaikkan tingkat suku bunga secara signifikan. Harapannya, menahan laju kenaikan nilai tukar dollar AS. Akibatnya, walaupun tingkat suku bunga naik, harga emas juga naik.

Dalam Grafik 4 terlihat tingkat suku bunga tidak terlalu berpengaruh pada harga emas di Indonesia. Tetapi, lebih banyak dipengaruhi harga emas dunia sehingga pengaruh nilai tukar dollar AS terhadap rupiah sangat besar.

Kebutuhan emas juga tergantung dari variasi musiman. Penjualan emas di negara industri cenderung menguat saat menjelang perayaan Natal.

Demikian juga pada hari raya Tahun Baru Cina, harga emas cenderung menguat pada awal kuartal. Permintaan biasanya cenderung melemah pada masa Ramadhan di Arab.

Dengan melihat semua aspek pengaruh pergerakan harga emas, terutama masih belum selesainya masalah AS dan Irak, harga emas masih berpotensi menguat kembali walaupun sudah ada koreksi.

Andam Dewi Pemerhati pasar komoditas, bekerja di Bursa Berjangka Jakarta

Selasa, 15 Juli 2008

BERLIAN DIBURU

JAKARTA: Berlian diincar investor kaya dan pengelola dana khususnya dari Timur Tengah, Russia, dan Ukraine, juga dari Eropa hingga Amerika sebagai alternatif investasi sehingga mendongkrak harganya.Kenaikan harga berlian, baik yang berwarna maupun tanpa warna diburu investor ditengah anjloknya pasar modal dan pasar properti.International Diamond and Jewelry Exchange melaporkan harga berlian gem 5 karat senilai minimal US$1 juta sudah naik 76,5% pada lima bulan pertama 2008.� Nilai impor bersih berlian juga naik 52,59% menjadi US$1,038 miliar pada lima bulan pertama 2008 di AS, sedangkan ekspor kotor turun menjadi US$1,267 miliar dengan volume 2.831.579 karat. “Orang-orang kaya mulai menyimpan uangnya dalam bentuk berlian, dan memang menghasilkan return yang fantastis,” kata Francois Graff, managing director Graff Diamonds International di London seperti dikutip Bloomberg.Lima tahun lalu penjual berlian membayar US$70.000 per karet untuk jenis berlian tanpa warna ukuran 10 karat atau lebih. Saat ini menjadi US$200.000 per karat.Joanna Hardy, senior specialist� Sotheby's jewelery department di London mengatakan ketika pasar saham anjlok, ini merupakan kabar baik. Orang-orang yang kelebihan dana akan mencari investasi yang lebih menarik. "Sotheby’s menjual berlian untuk pembeli dari berbagai negara. Saat ini kami banyak menerima pembeli dari Timur Tengah, Russia, dan Ukraine, juga dari Eropa hingga Amerika."Sejumlah perusahaan pengelola dana mulai membeli berlian, diantaranya Diapason Commodities Management SA dan Diamond Circle Capital Plc.“Dalam 12 bulan, harga berlian warna pink terbaik dan berlian biru naik 75%-100%,” kata penjual berlian di New York Alan Bronstein.Francois Graff yang juga penawar pada Sotheby’s and Crhistie’s mengatakan pasar berlian, layaknya pasar barang-barang seni, berdasarkan transaksi individual sehingga tidak membutuhkan investasi melalui pengelola dana. Investor tinggal mengangkat telepon untuk memesan dan pesanan akan segera datang. (ln)

Harga emas 11 Juli 2008

JAKARTA (bisnis.com): Harga emas di pasar spot (fisik) tercatat di posisi US$941,85 per ounce, atau naik tajam dari waktu yang sama kemarin pagi di level US$928,40 per ounce, ungkap siaran televisi CNBC.Sementara itu, dari Seattle Bloomberg melaporkan harga kontrak emas untuk pengiriman Agustus melonjak US$13,40 atau 1,4% menjadi US$942 per ounce di divisi Comex the New York Mercantile Exchange.Penguatan harga emas terakselerasi setelah harganya naik melebihi US$930 yang memicu sinyal pada diagram untuk melakukan aksi beli, kata Marty McNeill, pedagang di R.F. Lafferty Inc di New York.(er)

Senin, 30 Juni 2008

“Penjajahan IMF di Indonesia”

Oleh: Adian Husaini
Beberapa waktu lalu, saya menerima kiriman tulisan dari Muhaimin Iqbal, seorang praktisi dan pakar ekonomi syariah di Indonesia. Tulisan itu cukup menarik, karena mengupas secara teknis, aspek-aspek penjajahan ekonomi Indonesia oleh sebuah lembaga internasional bernama International Monetary Fund (IMF). Pada catatan kali ini, kita akan menyimak sebagian dari isi tulisan Iqbal tentang penjajahan IMF di Indonesia tersebut.Apa itu IMF? IMF bersama Bank Dunia (World Bank) dilahirkan melalui pasal-pasal perjanjian (Articles of Agreement) yang dirumuskan dalam koferensi internasional di bidang moneter dan keuangan di Bretton Woods, New Hampshire, USA, 1-22 Juli 1944. Perjanjian yang melahirkan apa yang kemudian dikenal dengan Bretton Woods Sistem ini intinya mewajibkan seluruh negara penanda tangan perjanjian tersebut (awalnya 44 negara) untuk mengkaitkan nilai tukar mata uangnya (pegged rate) terhadap emas dengan kelonggaran hanya plus minus 1 %.IMF yang secara resmi berdiri tanggal 27 Desember 1945 setelah 29 negara menanda tangani Articles of Agreement, memiliki tugas utama untuk mengawasi agar negara-negara penanda tangan tersebut mematuhi apa yang telah disepakatinya, bahkan apabila ada penyimpangan diatas plus minus 1% maka perlu persetujuan khusus dari IMF. Sesuai kesepakatan ini pula Dollar Amerika di-peg-kan ke emas dengan rate US$ 35 per troy ounce emas.Ironinya adalah Amerika Serikat yang menjadi promotor Bretton Woods dan juga IMF, ternyata juga menjadi negara pertama yang secara diam-diam melanggar kesepakatan bersama tersebut. Bahkan kecurangan ini mulai mendapatkan protes oleh sekutu Amerikat Sendiri yaitu Generale De Gaulle dari Perancis yang pada tahun 1968 menyebut kesewenang-wenangan Amerika sebagai mengambil hak istimewa yang berlebihan (exorbitant privilege).Keingkaran Amerika Serikat mencapai puncaknya ketika secara sepihak Amerika Serikat memutuskan untuk tidak lagi mem-peg-kan (mengkaitkan) dollar-nya dengan cadangan emas yang mereka miliki – karena memang mereka tidak mampu lagi! Kejadian yang disebut Nixon Shock tanggal 15 Agustus 1971 ini tentu mengguncang dunia karena sejak saat itu sebenarnya Dollar Amerika tidak bisa lagi dipercayai nilainya sampai sekarang.Yang menarik adalah, dari keingkaran Amerika Serikat ini seharusnya masyarakat dunia sudah menyadari bahwa IMF telah gagal menjalankan fungsinya untuk mengawasi para anggota agar mem-peg-kan mata uangnya terhadap emas dan tidak lebih dari plus minus 1 %. Kegagalan IMF menjalankan fungsi utama ini-pun seharusnya otomatis membuat IMF bubar karena tidak ada lagi alasan untuk menjustifikasi keberadaannya.Namun apa yang terjadi kemudian adalah hal yang justru dapat membongkar siapa sebenarnya IMF. Hanya sekitar empat bulan setelah tanggal yang seharusnya menjadi tanggal kematian IMF, yaitu 15 Agustus 1971, pada tanggal 18 Desember 1971, IMF justru dihidupkan kembali dalam bentuknya yang baru melalui perjanjian yang disebut sebagai Smithsonian Agreement dan ditanda tangani di Smithsonian Institute. Dari dua nama yang terakhir ini tentu tidak terlalu sulit bagi kita untuk memahami, minimal ‘keeratan hubungan’ antara IMF dan YahudiBagaimana dengan Indonesia, sebagai salah satu anggota IMF? Iqbal mengajak kita untuk melihat kembali peristiwa tanggal 15 Januari 1998, dimana Presiden Republik Indonesia (Soeharto) harus mengikuti kemauan IMF dengan menanda tangani 50 butir kesepakatan. Upaya Soeharto untuk membuat solusi alternatif dengan sistem CBS ditentang oleh IMF dan pemimpin Negara-negara besar. Di dalam negeri, para ekonom dan media massa juga berteriak menolak solusi CBS yang dibawa oleh Prof. Steve Henke.Akhirnya, Soeharto tunduk kepada kemauan IMF dan menandatangani Letter of Intent. Di butir-butir tersebut-lah Indonesia kehilangan kedaulatan ekonominya sejak 15 Januari 1998. Berikut adalah sebagian kecil dari butir-butir kesepakatan dengan IMF yang menunjukkan bahwa kedaulatan ekonomi dan moneter itu lepas dari tangan kita:
Pemerintah diharuskan membuat Undang-Undang Bank Indonesia yang otonom, dan akhirnya pemerintah memang membuat undang-undang yang dimaksud. Maka lahirlah Undang-undang no 23 tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. Pertanyaannya adalah, seandainya Indonesia masih berdaulat, mengapa untuk membuat Undang-Undang yang begitu penting harus dipaksakan oleh pihak asing?. Kalau Undang-Undangnya dipaksakan oleh pihak asing – yang diwakili oleh IMF waktu itu, terus untuk kepentingan siapa Undang-Undang ini dibuat? Dalam salah satu pasal Articles of Agreement of the IMF (Arcticle V section 1) memang diatur bahwa IMF hanya mau berhubungan dengan bank sentral dari negara anggota. Lahirnya Undang-Undang no 23 tersebut tentu sejalan dengan kemauan IMF. Lantas hal ini menyisakan pertanyaan besar – siapa yang mengendalikan uang di negeri ini? Dengan Undang-undang ini Bank Indonesia memang akhirnya mendapatkan otonominya yang penuh, tidak ada siapapun yang bisa mempengaruhinya (Pasal 4 ayat 2) termasuk Pemerintah Indonesia. Tetapi ironisnya justru Bank Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh IMF karena harus tunduk pada Articles of Agreement of the IMF seperti yang diatur antara lain dalam beberapa contoh pasal-pasal berikut :Article V Section 1, menyatakan bahwa IMF hanya berhubungan dengan bank sentral (atau institusi sejenis, tetapi bukan pemerintah) dari negara anggota.Article IV Section 2, menyatakan bahwa sebagai anggota IMF Indonesia harus mengikuti aturan IMF dalam hal nilai tukar uangnya, termasuk didalamnya larangan menggunakan emas sebagai patokan nilai tukar.Article IV Section 3.a., menyatakan bahwa IMF memiliki hak untuk mengawasi kebijakan moneter yang ditempuh oleh anggota, termasuk mengawasi kepatuhan negara anggota terhadap aturan IMF.Article VIII Section 5, menyatakan bahwa sebagai anggota harus selalu melaporkan ke IMF untuk hal-hal yang menyangkut cadangan emas, produksi emas, expor impor emas, neraca perdagangan internasional dan hal-hal detil lainnya.Pengaruh IMF terhadap kebijakan-kebijakan Bank Indonesia tersebut tentu memiliki dampak yang sangat luas terhadap Perbankan Indonesia karena seluruh perbankan di Indonesia dikendalikan oleh Bank Indonesia. Dampak lebih jauh lagi karena perbankan juga menjadi tulang punggung perekonomian, maka perekonomian Indonesiapun tidak bisa lepas dari pengaruh kendali IMF. Butir-butir sesudah ini hanya menambah panjang daftar bukti yang menunjukkan lepasnya kedaulatan ekononomi itu dari pemimpin negeri ini.
Pemerintah harus membuat perubahan Undang-Undang yang mencabut batasan kepemilikan asing pada bank-bank yang sudah go public. Inipun sudah dilaksanakan, maka ramai-ramailah pihak asing menguasai perbankan di Indonesia satu demi satu sampai sekarang.
Pemerintah harus menambah saham yang dilepas ke publik dari Badan Usaha Milik Negara, minimal hal ini harus dilakukan untuk perusahaan yang bergerak di telekomunikasi domestik maupun internasional. Diawali kesepakatan dengan IMF inilah dalam waktu yang kurang dari lima tahun akhirnya kita benar-benar kehilangan perusahaan telekomunikasi kita yang sangat vital yaitu Indosat.Hal-hal tersebut diatas, baru sebagian dari 50 butir kesepakatan pemerintah Indonesia dengan IMF. Namun dari contoh-contoh ini, dengan gamblang kita bisa membaca begitu kentalnya kepentingan korporasi asing besar, pemerintah asing dan institusi asing (yang oleh John Perkins disebut sebagai korporatokrasi yang mendiktekan kepentingan mereka ketika kita dalam posisi yang sangat lemah, yang diawali oleh kehancuran atau penghancuran nilai mata uang Rupiah kita.
Sama dengan Penjajahan VOCPenjajahan ekonomi ala IMF ini mirip dengan catatan sejarah kita 400 tahun lalu, berikut petikannya:Pada abad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta.Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala.VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa itu, dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan Banten. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia ).Jadi kehilangan kedaulatan dibidang ekonomi yang kita alami sekarang sebenarnya hanya pengulangan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia empat abad silam, secara visual kehilangan kedaulatan ini seolah tercermin dari foto yang menghiasi halaman media masa setelah kesepakatan tersebut ditanda tangani oleh Presiden Republik Indonesia didepan petinggi IMF saat itu - Michel Camdessus.Demikian petikan ringkas dari fenomena penjajahan terhadap Indonesia dari VOC ke IMF sebagaimana dipaparkan oleh Muhaimin Iqbal. Menurut Iqbal, saat dijajah oleh VOC, masih banyak pemimpin dan rakyat yang sadar, bahwa mereka dijajah. Tetapi, saat ini, tidak banyak yang sadar akan realitas penjajahan oleh IMF. Yang lebih mengerikan, banyak cendekiawan yang menjadi pendukung IMF dan mendukung tindakan serta kebijakan IMF di Indonesia. Disamping masalah moralitas, ada masalah pendidikan ekonomi liberal yang diajarkan pada berbagai jenjang pendidikan di Indonesia.Seorang kandidat doktor bidang ekonomi di Universitas Airlangga Surabaya menceritakan bahwa sejauh penelitiannya, semua kurikulum di fakultas ekonomi memang bermuatan ekonomi liberal. Karena itu, jika ingin merdeka dari penjajahan ekonomi, maka yang pertama kali harus dimerdekakan adalah ”pikiran” dan ”mental” terlebih dahulu. Dan itu harus dilakukan melalui lebaga pendidikan. Adalah mustahil bisa merdeka, jika para ilmuwan ekonomi masih melihat bahwa penjajahan IMF adalah rahmat bagi Indonesia. Wallahu a’lam. (Depok, 23 Februari 2007/hidayatullah.com]

Rabu, 14 Mei 2008


Rabu, 07 Mei 2008

Rahasia di Balik Kebiasaan

Sifat di Balik Aksesori yang Disukai

Benda-Benda mungil apalagi aksesori pasti memiliki penggemar cukup Panatik. Bahkan ada yang sampai-sampai tak mau ke luar rumah tanpa pakai cincin. Kegamaran akan sesuatiu jenis aksesori bisa dimanfaatkan untuk mengenal lebih jauh sifat penyukanya. Coba saja simak, apa yang ada dibalik benda favorit Anda?

Giwang
Mereka yang menggemari aksesori giwang, biasanya selalu menjaga imej dan punya atensi pada trend yang tengah berkembang. manja dan memiliki selera tinggi. ramah dan suka berteman tak tahan kesepian.
Dalam urutan cinta, gampang berganti pacar karena ia tipe pembosan. Tetapi kalo telah bertemu dengan yang pas, seluruh hidupnya akan dikorbankan demi pasangannya.

Jam Tangan
Penyuka Jam tangan biasanya seorang ambisius, memiliki obsesi hidup mewah, dan mapan. Menyukai hal-hal praktis dan tidak bertele-tele. Biasanya menempa diri dengan disiplin dan mengharapkan hal sama dari lingkungannya.

Menyukai hidup hemat, namun sebaliknya kalau ada hal yang menguntungkan dikemudian hari, rela mengeluarkan dana berlebihan. Agak kurang sabaran. Cepat dalam mengambil keputusan namun kadang menyesalinya dikemudian hari.

Dalam urusan asmara, selalu menuntut hal pasti. Kalau merasa ragu, lebih baik putus duluan daripada dibelakang hari berantakan. type setia dan mandiri.

Gelang
Penggemar gelang biasanya seorang yang senang akan kerapian, detail dalam kerja dang ingin selalu menyelesaikan semua tugas yang dilimpahkan dengan tangannya sendiri. Agak kurang percaya pada orang lain dikarenakan tanggung jawabnya besar.
Penyuka gelang sangat mendambakan keharmonisan dalam bercinta. ia agak sulit menemukan seorang yang benar-benar pas di hati, karenanyasering berganti pacar. tapi begitu menemukan pacar yang cocok, tak akan berpaling pada yang lain.

Cincin
Penyuka cincin biasanya memiliki hati lembut, mau berkorbanuntuk orang lain, Perasaannya terkait pada keluarga dan orang-orang yang disayangi. Memiliki rasa setia kawan tinggi. Berhati hangat dan selalu ingin membantu kerepotan orang lain.
Dalam Masalah asmara ia menuntut seseorang yang punya komitmen kuat pada cinta, romantis, dan menginginkan sekali saja menikah dalam hidupnya.

Kalung
Mereke yang menggemari kalung dan bahkan nggak bisa keluar rumah tanpa kalung biasanya baik hati, memiliki cita-cita tinggi dan mau bekerja keras untuk mengejar karier atau kesuksesan. Agak sulit menyimpan rahasia. Trkadang sebang membanggakan diri.
Dalam mengambil keputusan agak lamban karena mempertimbangkan dari segala sisi. Namun begitu telah final maka tidak ada sesuatupun yang bisa mengubahnya kembali. untuk urusan cinta sosok ini mendambakan pasangan yang romantis, rasa cemburunya besar. Dan ingin selalu menjadi tumpuhan perhatian pasangannya.
Bross
Pecinta bross umumnya seorang yang gampang beradaptasi. Selalu menggunakan kenyamanan meski hal itu dilaluinya dengan jerih payah. tak mudah mengeluh dan selalu menikmati liku-liku hidup apa adanya. Ceria dan bukan type pendendam. dalam bercinta sosok ini mendambakan pasangan humoris dan senang berpetualang seperti dirinya.
Bisa memberi kebebasan dan bisa dipercaya. Ia sendiri tipe setia dan penuh pengertian. (Sumber Majalah Kartika edisi 48 )
*****

Jumat, 25 April 2008

BSM Targetkan Investasi Emas Jaring 300 Kilogram
Selasa, 23 Oktober 2007

Bank Syariah Mandiri (BSM) terus mempersiapkan infrastruktur untuk penerbitan produk investasi emasnya. Rencananya, produk investasi tersebut paling lambat terbit akhir tahun ini. Bank syariah dengan aset terbesar tersebut telah mengantongi izin produk dari Bank Indonesia (BI). Hingga setahun usai diterbitkan, produk investasi emas BSM diharapkan mampu menjaring hingga 300 kilogram emas.

“Hingga setahun pertama diharapkan sekitar 200-300 kilogram emas,” kata Kepala Divisi Pengembangan Produk BSM, Dewa Bagus Ivan Baruna kepda Republika, Senin, (22/10).

Menurut Ivan, produk investasi emas BSM tersebut tidak akan masuk dalam neraca keuangan bank syariah tersebut. Hal itu karena produk ini termasuk dalam jenis produk off balanced sheet. “Jadi, ini off balanced sheet, kita hanya dapat fee,” katanya.

BSM, lanjutnya, mendapatkan fee dalam mengelola produk investasi. Namun, ia mengaku persentase fee diterima BSM belum dapat diinformasikan. Hal tersebut karena hingga kini BSM masih dalam tahap pengembangan. “Secara terperinci saya belum bisa cerita,” katanya.

Meskipun demikian, Ivan mengaku optimistis produk investasi emas BSM akan diburu masyarakat. Sebabnya, berdasarkan pengkajian bank syariah tersebut, cukup banyak masyarakat yang menginginkan produk serupa.

Ivan menyebutkan, setoran awal minimal produk investasi mas.BSM akan direncanakan sebesar 10 gram. Selain itu, produk investasi BSM tersebut juga akan dipasarkan terlebih dahulu di seluruh kantor cabang di wilayah Jabotabek selama tiga hingga enam bulan. Selanjutnya, BSM akan memperluas pemasaran ke sejumlah cabang di luar wilayah Jabotabek.

Ivan menyebutkan, salah satu faktor yang menjadi pertimbangan perluasan pemasaran adalah lokasi jaringan rekanan penyedia emas fisik. Hal tersebut karena BSM menginginkan produk investasi emas tersebut didukung oleh emas fisik.

“Lokasi jaringan rekanan penyedia emas fisik cukup berpengaruh. Kalau terlalu jauh dari cabang, saya kira tidak akan efektif,” katanya.

Direktur Usaha Kecil dan Menengah (UKM) BSM Hanawijaya menyebutkan, BSM menargetkan produk investasi emas bank syariah tersebut terbit paling lambat akhir tahun. Hal tersebut terutama dipicu banyaknya masyarakat yang menginginkan bank BSM menerbitkan produk investasi emas. “Jadi memang demand-nya ada dan ini cukup besar,” katanya.

Hanawijaya menyebutkan, BSM memang sengaja tidak menamakan produk emasnya sebagai produk investasi Dinar. Sebabnya, Dinar menggunakan kadar emas 22 karat.

Sedangkan, produk investasi emas BSM menggunakan emas 24 karat dan didasarkan pada standar emas internasional harian. “Karena itu, supaya lebih mudah, kami menamakannya produk investasi emas BSM,” katanya.

Hanawijaya juga menyebutkan hingga kini BSM terus mempersiapkan sistem tekenologi informasi (TI) yang mendukung produk investasi tersebut. BSM mengharapkan penyiapan sistem TI tersebut rampung dalam waktu dekat.

“Kita menginginkan TI kita bisa memungkinkan nasabah mengetahui harga emas harian internasional sehingga bisa ikut memonitoring perkembangannya,” katanya. (Republika)

Bahrul(syariahmandiri.co.id)

International Seminar: Dinar-Dirham as The Solution to Monetary Crisis

Medan, Indonesia (14th March 2002)

Report by Norizan Esa

This seminar was co organised by Dinar-Dirham Foundation, Indonesia and attended by various sections of the international community - diplomats, financiers, business community, academics and religious bodies. The seminar was successful in emphasising the importance of returning to the Islamic bimetallic currency of gold and silver, in place of usurious paper money. Calls congratulating the organisers came pouring in the next day, as well as reports in the national papers. Seven speakers dwelt considerably on the subject. Dr Hakimi expounded on the views of European thinkers like Goethe, Wagner, Ezra Pound and Nietzche, all of whom criticised paper money and its usurious nature. He then mentioned Shaykh Muhammad 'Illish, an expert on fiqh at Al-Azhar University who gave a fatwa that included zakat is not payable for paper money. However, Syeikh Muhammad Abduh made fatwa making halal the interest from postal savings. This signals the start of islamisation of interest and banking. His student, Rashid Redha, continued this thesis in his writings.

As a Muslim country, gold coins had been in use in Malaysia, for example the Kijang mas. This is the gold coin from the Kelantan Sultanate during the rule of the Malay queen, Che Siti Wan Kembang in 1850. It is notable that power of the Muslims degenerated with the acceptance of a non gold based economy. For example, the fall of the Othmanli Caliphate in Turkey (1923) was partly due to the removal of gold (Dinar) and silver (Dirham) from circulation. The Caliphate's unfavorable trade balance resulted in an outflow of gold, while European states demanded more favorable trade treaties and were guilty of blatantly abusing them.

Dr Hakimi continued with Malaysia's experience since independence. This can be categorised into three phases: beginning with the establishment of a central bank during the period of just developing the country. The second phase saw the process of Islamisation when many financial institutions were "islamised". This included the establishment of Islamic banks and banking, Tabung Haji and Islamic Insurance. However, during this phase the prime minister of Malaysia, Dr Mahathir announced that the current monetary system based on paper money and cheques is not within the Islamic system. Around the same time, Shaykh Abdulqadir as-Sufi also brought to light the usurious nature of paper money.

The third and current phase is the move towards gold based economy, spurred by the 1997 Asia Economic Crisis. Dr Mahathir declared at The Annual Seminar of The World Bank in Hong Kong that currency speculation should be made illegal since paper money in itself has no intrinsic value. As a response to the economic crisis, Malaysia withdrew RM 500 and RM 1000 notes from circulation. The Government then imposed currency control, pegging the ringgit to the US dollar. At the same time, any form of intervention by the IMF was rejected. In 1999, Dr Mahathir reiterated that paper money has no value. The value registered on a piece of paper only has value when it is endorsed by the government.

The first exposition of the dinar (gold coin) and dirham (silver coin) was held in Universiti Sains Malaysia in 1998, at the 3rd International Islamic Political Economy Conference (IIPEC), officiated by the then Minister of Finance, Tun Daim Zainuddin. In 2000, e-dinar Ltd. was established as an off-shore facility in Labuan. The e dinar was then launched at the 4th IIPEC, jointly organised by ISNET-USM and officiated by the Deputy Prime Minister of Malaysia. The e-dinar Ltd. team also had a meeting with the Prime Minister.

In December 2000, The Royal Mint of Malaysia was awarded the rights to mint Malaysian gold coins, named the Kijang Emas. The issue of the Kijang Emas gold coin was launched by Dr Mahathir early in 2001. At the Al Baraka Symposium in 2001, Dr Mahathir declared that the Islamic Gold Dinar be used as the currency for trade and national reserves among OIC countries. He confirmed that the dinar is not paper but must be in gold.

In July 2001 Shaykh Abdalqadir as-Sufi, accompanied by the CEO of e-dinar Ltd. Rais Umar Vadillo, paid a courtesy call on the Prime Minister, Datuk Seri Dr Mahathir. In this meeting, Dr Mahathir expressed his intention to hold a seminar to discuss the introduction of the gold dinar as a world currency and determine its usage and the dimension of its applications. Shaykh Abdalqadir as-Sufi was conferred the honorary doctorate of letters by USM in August 2001. As guest speaker of a USM public lecture held two days earlier, Shaykh Abdalqadir as-Sufi spoke on the Restoration of Fiscal Islam, urging for the reinstatement of the gold dinar and silver dirham in the monetary system. In 2002, Rais Umar Vadillo briefed Dr Mahathir on further developments of the Islamic dinar.

Dr Hakimi also enlightened the seminar audience on efforts relating to establishing the use of this bimetallic currency outside Malaysia, as well as the views of various experts on this matter. The first gold dinar and silver dirham was minted by Islamic Mint Spain in 1992. In 1996, e-dinar Ltd. established the first web site on gold and silver economy. Indonesia suffered greatly under the Asia Economic crisis. As a result, in 1998 UPP Logam Mulia minted gold coins named Koin Ongkos Naik Haji, with the specific purpose of savings for Hajj. Thus the people can guarantee the value of their savings against massive fluctuations in the Indonesia Rupiah. This was followed by the minting of the gold dinar and silver dirham for Islamic Mint Indonesia.

In 1993, Kurtzman wrote in his book The Death of Money that paper money has become a twisted abstraction when President Nixon removed the gold backing to the US dollar. Although paper money is still a promissary note, but there are questions that arise - namely "what is to be paid?" and "who is to receive this payment?". In 1998 Dr Nasir Farid Wasil, Mufti of Egypt urged the reestablishment of Islamic economy based on gold and silver, in place of the US dollar.

The next speaker, Dr Zuhaimy presented a paper titled Towards Establishing A Stable Currency in the Region. Dr Zuhaimy explained the usurious nature of paper money - existing as promissary note or as fiat money: that issued by governments. This allows banks to produce money out of nothing, so paper money is actually debt money. The manipulability of the value of paper money makes it a very unstable currency. He then showed that economics is not neutral since its presumptions opposes Allah's injunction. Economics has forbidden trade and permitted riba, but Allah has permitted trade and forbidden riba. There is thus a need to replace speculative economy with trade (real economy).

Dr Zuhaimy then talked about the national debt - that it can never be repaid. A nation is forced to borrow to justify taxation - the capital borrowed is used to finance projects, for which taxes are charged to provide the means to repay the debt. The interest imposed on the national debt causes it to grow exponentially, yet payments are made regularly. In this way, payments never catch up with the growing national debt. Nations just continue paying!

The speaker continued with a description of the Islamisation process, beginning with the Islamisation of knowledge. Yet knowledge cannot be Islamised. All knowledge belongs to Allah. The final agenda in the Islamisation process is the Islamisation of financial institutions. The methodology of Islamisation involves the abandoning of the original practice based on amal and reverting to text then developing principles and procedures. Having lost the amal, Islamisation of practices (amal) alien to Islam becomes the norm. Thus, for example the Islamisation of financial institutions in effect becomes an attempt at icing the cake, while overlooking to question the basis of such systems.

It is by this method that modern Islamic scholars have proposed the creation of Islamic central banks to issue currency or paper money backed by gold. This is effectively the gold standard. However throughout history gold was used as money, then papers represented gold and then later, papers backed by gold were used as money. Today, money is pure paper not backed by any specie of any kind. And now, money is in the form of computer signals. The value of money today can never be guaranteed, and remains unstable.

Dr Zuhaimy proposes that the way to a stable currency in the region is by adopting the Islamic Gold Dinar (IGD) and the Islamic Silver Dirham (ISD) and establish real economy. It must be gradual, beginning with co existence of the banking system and the bimetallic currency of gold and silver. The ultimate goal of the IGD is to eliminate usury. The people should be allowed to choose the IGD as an alternative. The IGD and IGD-payment systems should develop in accordance to the general policy of promoting Islamic Trading, thus avoiding usury.

The third speaker, Dr Abdalhamid Evans who represented Rais Umar Ibrahim Vadillo presented a paper on The Core Mechanism of real economy. The elements of real economy are markets, qirad, trading, awqaf, guilds and the IGD. In contrast, speculative economy has as its elements - banking, interest, stock exchanges, financial instruments, credit and paper money. In real economy, transactions involve the exchange of goods and money, bound by contracts and conducted in a particular place. The core mechanism of real economy has three components, namely the market network, investment and the payment system.

The market network of suqs and e-suqs provides traders with accessible open markets. Rent is not paid and the trader has no exclusive right to a particular location in the market. Investment in trading is by the contract of qirad and e-qirad, which circumvents the conventional banking system. The payment system adopted in this real economy is the dinar and e-dinar, the only universally stable currency.

Another speaker and lecturer in law at the Universiti Sumatera Utara, Mr O.K. Saidin talked about the ownership that is attached to money. Ownership does not follow paper money, either in time or distance. On the other hand, such ownership remains with gold and silver. Gold and silver still has value even after being melted down, or transported to another country or kept for hundreds of years. One cannot claim the value attached to paper money once it has turned to ashes, or for an Indonesian Rupiah printed twenty years ago. A Rupiah will not be accepted in Germany, yet a US dollar is accepted in Indonesia. So, the ownership of paper money will follow only if it is from a particular country. This is a form of control, invisible to many.

The seminar has gathered experts from various fields and a complete picture of real economy, driven by the bimetallic currency of the Islamic Gold Dinar and Islamic Silver Dirham was presented.


Kamis, 24 April 2008

Fungsi Emas


Info Produk Emas
Sulit memperkirakan dan mencari data kapan sebenarnya emas pertama dikenal dan memiliki nilai, sebab menurut sejarah peradaban munusia maka Emas sudah dikenal sejak manusia mulai berbudaya. Konon kabarnya emas mulai dikenal sebagai suatu yang bernilai tinggi dimulai dari masa kekuasaan kekaisaran di Eropa yang kemudian diikuti dengan pencarian oleh sejumlah petualang dan penemu benua baru seperti Christopher Columbus dan Vasco da Gama yang pada akhirnya memulai masa imperialisme. Namun jauh sebelum adanya petualangan & masa tersebut, dibeberapa sejarah menunjukkan bahwa sejumlah suku pedalaman sudah mengenal emas dan dijadikan sebagai alat budaya khsusunya perlengkapan kegiatan spiritual kuno, bahkan menurut sejarah Mesir kuno menunjukkan bangsa Mesir sudah mengenal Emas sejak zaman sebelum masehi.Evolusi pemanfaatan emas secara sederhana dapat diurutkan sebagai berikut Emas sebagai: Perlengkap budaya religius, lambang kekuasan, komoditi pertambangan, aset kekayaan, perhiasan, alat tukar, cadangan devisa dan industri elektrionik. Oleh karena itu, Emas tidak hanya dikenal sebagai suatu komoditi pertambangan tetapi juga sebagai suatu produk, alat moneter, dan instrumen investasi.
Emas Sebagai Komoditi PertambanganSebagaimana umumnya barang logam lainnya, maka Emas merupakan salah satu jenis logam yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan. Sejarah pertambangan Emas sudah sangat lama, bahkan ada penulis memperkirakan sudah sejak 2000-5000 tahun SM. Begitu panjangnya usia kegiatan pertambangan emas tentunya juga banyak mengalami perubahan metoda, dimulai dengan cara pertambangan tradisional yaitu menggunakan gravitasi atau amalgamasi air raksa, kemudian motoda Sianida, flotasi dan heap leaching.Pertambangan emas terbesar saat ini adalah Afrika Selatan, kendati demikian tidak berarti Afrika Selatan memilki cadangan emas terbesar. Sesuai sifatnya emas memang tidak habis dikonsumsi, berbeda dengan komoditi lain yang habis dikonsumsi sehingga memungkinkan negara lain yang tidak memilki tambang emas yang banyak tetapi justru memilki cadangan emas yang besar, hal ini terakit dengan fungsi emas sebagai cadangan devisa dan instrumen moneter serta investasi.Pertambangan emas di Indoensia dimulai sejak adanya penjajahan (imperialisme Eropa), kendati menurut sejarah sejumlah kerajaan Nusantara di Indonesia sudah melakukan kegiatan penambangan emas seperti yang dilakukan di Sumterea dan Kalimantan, bahkan ada kemungkinan sejak zaman pra sejarah sebab beberapa barang peningggalan pra sejarah ada yang terbuat dari emas. Tercatat tambang Emas tertua diantaranya Alluvial di Kalimantan Barat pada abad ke-4 dan Lebong Tandai pada abad ke-7. Setelah zaman kemerdekaan sejumlah usaha pertambanagn milik penajajah Belanda di ambil alih oleh pemerintah Indonesia dengan mendirikan perusahaan pertambangan diantaranya R.T. Braakensick, selain itu juga dilakukan pertambangan dengan sistem kontrak karya dengan sejumlah perusahaan asing serta pertambangan-pertambangan rakyat maupun juga usaha pertambangan ilegal. Sebagai komoditi pertambagan, harga emas juga mempengaruhi dan dipengaruhi harga komoditi-kmoditi pertambangan lainnya selain faktor-faktor fundamental terkait supply & demand maupun faktor lainnya non-fundamental. Kendati harga emas lebih dominan menjadi acuan (leading) harga bagi komoditi pertambangan lainnya terlebih lagi perak yang banyak dihasilkan sebagai sampingan dalam pertambangan emas, harga emas juga terkadang mengikuti harga komoditi pertambangan lainnya seperti harga minyak bumi (crude oil) dan Nikel. Korelasi harga antar komoditi ini baik iu yang memang mempunyai hubungan langsung (substitusi & komplementer) maupun tidak sama sekali memunyai hubungan, dalam analisa harga biasa disebut sebagai sentimen market.

Emas Sebagai Suatu ProdukSuatu hal yang perlu dimengerti dan sepertinya suatu yang sederhana adalah perbedaan produk dan komoditi. Namun kita tidak akan membahas hal tersebut lebih jauh lagi, sebab yang terpenting adalah kedua hal tersebut menunjukkan adanya perbedaan harga emas sebagai suatu komoditi dan emas sebagai suatu produk.Sebagai suatu produk, kita lebih mengenal emas dalam bentuk perhiasan, kendati saat ini produk emas tidak hanya sebagai perhiasan tetapi juga untuk peralatan elektronik. Diperkirakan demand Emas untuk perhiasana dan Industri mencapai 80% dari total demand emas secara global. Harga Emas terkait emas sebagai suatu produk khsususnya perhiasan, dipengaruhi kondisi supply dan demand perhiasan. Demand emas sebagai suatu produk perhiasan akan dipengaruhi kegaitan seremonial pada perayaan-perayaan hari besar.Emas Sebagai Instrumen MoneterEmas sebagai suatu instrumen moneter dan membuat harga emas berkorelasi dengan pasar keuangan (fianncial market), dimulai dengan digunakannya emas sebagai alat tukar (Uang), standard emas dan digunakannya Emas sebagai cadangan devisa suatu negara. Selain adanya faktor akan sifat harga emas yang tidak punya efek inflasi (Zero inflation effect).Sebelum kita membahas lebih jauh tentang Emas sebagai alat tukar atau uang logam, kita perlu sekilas melihat sejarah ataupun evolusi alat tukar yang melalui tahapan-tahapan berikut sesuai perubahan zaman: Barter, uang barang atau uang komoditi, uang logam dan uang kertas (Fiat Money).Sesuai dengan tahapan perkembangan alat tukar diatas, maka Emas sebagai alat tukar dimulai pada masa alat tukar terbuat dari logam. Emas sebagai alat tukar dibuat berbentuk koin, dalam sejarah koin emas sudah dibuat sejak masa Raja Croesus dari Lydia sekitar tahun 560 SM. Koin emas telah digunakan sebagai alat tukar dimasa Kerajaan Romawi pada zaman pemerintahan Julius Caesar. Kemudian pada masa berikutnya koin emas juga digunakan oleh bangsa arab yang menggunakan dinar emas dan dirham perak yang sudah disyahkan mekanisme dan sistem timbangan resmi oleh Nabi Muhammad saw. sebagai alat tukar dengan dasar nilai instrinsik-nya. Aplikasi Nilai tukar dengan uang emas yang menggunakan nilai instrinsik sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad saw inilah yang pada dewasa ini kembali menjadi pembicaraan para ekonom untuk melihat dan mempertimbangkan lagi penggantian uang kertas menjadi uang logam Emas. Kendati saat ini para ekonom mulai kembali mempertimbangkan penggunaan uang logam Emas sebagai alat tukar menggantikan uang kertas, namun kita perlu sekilas membahas sejarah standar Emas dan uang kertas. Perkembangan pertukaran dan skala perdagangan dan penggunaan alat tukar, menuntut adanya alat tukar yang lebih fleksibel sehingga ringan dan mudah dibawa (portability) dan mudah dibagi tanpa mengurangi nilai (divisibility); mendorong diciptakannya uang kertas. Pada awalnya uang kertas yang dicetak harus disertai dengan penjaminan, jaminan atas uang kertas yang ini berupa emas, inilah yang kemudian dikenal dengan standar Emas. Momentum pelaksanaan standard emas ini ditandai dengan perjanjian Bretton Woods tahun 1944, perjajian ini didukung tidak kurang 44 Negara yang setujui mematok mata uang kertas masing-masing negara terhadap USD Dolllar dengan jaminan Emas yaitu USD 35 dijamin dengan satu ounce Emas. Perjanjian atau standar Emas ini berlangsung 27 tahun hingga tahun 19971, dimana pada tahun 1971 pemerintah Amerika Serikat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi akibat perang vietnam tidak mampu lagi mempertahankan jaminan atas uang kertas dengan cadangan emas yang dimilikinya akibat besarnya aliran penukaran US Dollar dengan Emas, sehingga mendorong pemerintah AS memutuskan tidak lagi menjamin US Dollar dengan Emas, sejak itu mata uang kertas tidak lagi dijamin dengan Emas tetapi ditentukan oleh kepercayaan yang didukung oleh ketersediaan cadangan devisa (Emas dan valuta asing) yang dimiliki bank sentral masing-masing negara dan supply-demand yang ditentukan kondisi fundamental ekonomi masing-masing negara. Emas sangat sessuai menjadi salah satu cadangan devisa selain valuta asing (valas), hal disebabkan harga cenderung terus meningkat dan dapat diguakan sebagai alat pembayaran internasional yang dapat diterima oleh semua negara selain juga harga emas mengacu pada harga perdagangan internasional. Digunakannya Emas sebagai cadangan devisa bank sentral tiap negara menjadikan Bank sentral sebagai salah satu variabel demand pasar Emas global pada periode tersebut, namun kini kondisi tersebut mulai berubah sebaliknya. Menyatuan mata uang kawasan seperti Zona Euro, membuat bank sentral menjadi satu dan berarti beberapa bank sentral negara-nagara yang tergabung tidak lagi memiliki kepentingan menahan cadangan devisa beruapa Emas yang cukup besar dan perlahan melepas cadangan Emas ke pasar. Hal tersebut menjadi Bank sentral saat ini sebagai salah satu variabel supply di pasar Emas global. Korelasi Emas dengan sektor meneter dan pasa keuangan (finansial Market) juga didasari oleh sefat harga emas yang tidak punya efek inflasi (Zero inflation effect), dimana bila terjadi kenaikkan harga maka harga emas akan juga cenderung meningkat. Atas dasar hal tersebut, maka pada saat kondisi ekonomi memburuk atau ketidak ada kepastian akan prospek perekonomian maka semua pihak akan cenderung megagng emas sebagai aset-nya dibanidngkan aset lainnya.Selain disisi diatas, korelasi pasar keuangan khususnya mata uang dengan harga emas adalah konversi harga. Kenadata Emas diperdagangan semua negara dengan mata uang negaranya masing-masing, namun pelaku pasar tetap mengacu pada harga emas internasional yang denomiasinya dalam US Dollar per-troyounce. Apresiasi dan depresiasi mata uang negara yang dipengaruhi kondisi & prospek fundamental ekonomi negara yang bersangkutan akan mempengaruhi harga emas konversi ke dalam denominasi harga emas lokal.Emas Sebagai Instrumen Lindung Nilai & Investasi Emas sebagai suatu instrumen Lindung Nilai (Hedging) & Investasi sulit dipisahkan, kebiasaan masyarakat menyimpan kekayaan dalam bentuk emas dalam jangka panjang, dapat dinilai sebagai suatu langkah investasi sebab harga Emas cenderung mengalami kenaikkan dan jarang sekali mengalami penurunan sehingga ada keuntungan yang di dapat pemiliknya, sekaligus pemilik Emas sudah melakukan langka lindung Nilai (hedging) terhadap aset kekayaan terjadap penurunan nilai kekayaannya dari pengaruh inflasi.Emas sebagai instrumen Investasi sangat sesuai digunakan untuk tindakan diversifikasi baik untuk aset kekayaan maupun suatu portofolio investasi. Terkait harga emas sebagai instrumen investasi dan korelasinya dengan pasar keuangan dan moneter, maka harga emas cenderung berfluktuasi dan semakin tinggi fluktuasinya seiring dengan semakin tinggi pula harga emas dari waktu ke waktu.Selain memilki berbgai keuunggulan sebagaiman diatas, investasi Emas memilki kekurangan diantaranya: Kesulitan menyimpanannya, pasar yang kurang transfaran, dan resiko keamanan.Produk Bursa Berjangka Dengan Underlying Emas Emas sebagai suatu instrumen Investasi memiliki kelemahan sebagaimana disebutkan diatas yaitu kesulitan menyimpannya, resiko keamanan, fluktuasi harga yang tinggi dan pasar fisik emas yang belum transfaran. Kendala dan kelemahan melakukan investasi Emas tersebut dapat diatasi dengan beberap produk Bursa Berjangka dengan basis Emas, meliputi:1. Kontrak Berjangk Emas 2. Kontrak Gulir Emas3. Kontrak Forward Emas Negotiable 4. Pasar Fisik Emas tanpa warkat (paperless). Pada transaksi Kontrak Berjangka Emas, investor mendapat kemudahan tidak perlu tempat & biaya menyimpanan Emas, demikian juga resiko fluktuasi harga yang tinggi dapat menjadi peluang mencari keuntungan dalam waktu yang lebih singkat, begitu juga dengan harga akan lebih transfaran sebab dilaksanakan secara Multilateral (banyak pihak) dan dalam pasar yang organisir oleh suatu bursa. Investor juga tidak memerlukan dana tunai 100% sesuai nilai transaksi, tetapi cukup dengan menyediakan dana untuk Intial Margin (sekitar 5% Nilai transaksi) dan variasi margin. Kontrak Berjangka Emas juga dapat digunakan sebagai sarana lindung nilai (hedging) oleh pelaku pasar fisik Emas baik bagi konsumen (industri) maupun juga bagi produsen (pertambangan dan pengolahan Emas). Berbeda dengan kontrak berjangka Emas, maka kontrak Gulir Emas tidak ada batas waktu jatuh tempo dan penyerahan fisik sehinggga lebih memudahkan lagi bagi investor dan dapat digunakan untuk kebutuhan investasi dan lindung nilai jangka pendek maupun jangka panjang, namun demikian pada kontrak gulir Emas ada perhitungan bunga (penerimaan bunga bagi yang punya posisi beli dan pembebanan bunga pada yang memilki posisi jaul). Kesulitan dan kekurangan investasi Emas sebagaimana diatas, juga dapat diatasi dengan Pasar Emas tanpa warkat (paperless), dimana investor tidakperlu repot melakukan penyimpanan sebab Bursa dan Lembaga Kliring sudah menyediakan tempat penyimpanan secara gratis dan aman serta dapat diambil sewaktu-waktu, investor pemilik Emas dapat langsung melakukan transaksi penjualan terhadap Emas yang disimpannya secara transfaran melalui penawaran jual pada system perdagangan yang disediakan bursa.
kunjungi Juga www.emaskita.com


E-gold


E-gold amankah dan bisakah dijadikan wahana investasi?



Beragam tawaran investasi yang sering kali muncul ketika kita mencari data tentang peluang investasi. Namun perlu dicermati tawaran investasi yang sangat bertaburan di dunia maya. Tinggal bagaimana kita mampu memilih dan mencari kebenarannya.
E-gold adalah salah satunya. E-gold ini merupakan alat pembayaran digital baru yang dikeluarkan oleh E-golg ltd tahun 1996 atas inspirasi Dr. Douglas Jackson dan barry K. Downey, yang berkedudukan di Nevis.
Transaksi yang dilakukan melalui e-gold mulai berkembang dengan pesat sejak tahun 2005. E-gold ltd adalah suatu perusahaan financial ternama di dunia yang berpusat di Amerika, yang mengkhususkan dirinya pada transaksi Internet. Bisa dikatakan bahwa secara de-facto e-gold adalah mata uang di internet. Transaksi dengan menggunakan kartu kredit sangat rawan terhadap pembobolan kartu kredit. Karena e-gold menawarkan solusi pembayaran di internet yang relative lebih aman.
Cara kerja e-gold persis seperti bank-bank tradisional pada umumnya. E-gold menerima deposit dari nasabahnya, dimana nasabahnya dapat bertransaksi, transfer keluar ataupun masuk melaui e-gold persis sama seperti bank tradisional pada umumnya.
E-gold menyimpan deposit nasabahnya dalam bentuk emas, jadi ketika nasabahnya menyetorkan sejumlah uang dalam mata uang tertentu, uang tersebut akan dikonversikan menjadi emas. Mengapa emas? Karena emas adalah mata uang yang paling stabil saat ini. Jadi apabila harga emas dunia naik, nilai uang kita di e-gold juga naik, demikian pula sebaliknya.
Sebagai mata uang internet, e-gold sama halnya seperti rupiah dan dollar, tetapi bukan mata uang suatu Negara. Ini berarti tidak ada suatu Negara yang mengeluarkan uang kertas ataupun logam dalam mata uang e-gold. Transaksi e-gold dilakukan secara elektronik melalui internet. Nilai transaksi adalah berdasarkan berat emas murni berdasarkan harga emas yang berlaku di dunia.
Anda dapat merubah e-gold ke dalam bentuk mata uang lain,Alat transaksi ini sudah diakui oleh banyak merchant diseluruh dunia dalam melakukan transaksi online, dan sebagai media pembayaran yang sah. Selain itu dana di e-gold dapat ditarik melalui ATM berlogo Cirrus, Maestro dan mastercard.
Menyimpan Emas
Lewat situsnya diketahui kalau saat ini e-gold telah memiliki emas batangan senilai lebih dari 3 ton. Hamper menyamai nilai kekayaan beberapa Negara kecil, e-gold mengambil keuntungan dari biaya pencairan dan biaya simpan yang mereka kenakan kepada setiap pengguna . Jumlah pengguna e-gold ( seperti yang diklaim oleh e-gold sendiri) meningkat drastis dari satu juta pada bulan nopember 2003 meningkat menjadi 3 juta pada tanggal 22 April 2006.
E-gold ini bias dijadikan alternative alat pembayaran digital dalam bertransaksi. eCurrency, alat pembayaran digital yang bias diterima diseluruh dunia asaat ini adalah kartu kredit. Namun pemakaiannya di internet sangat rawan, karena memunculkan masalah terutama keamanan. Apalagi Indonesia saat ini ter-blacklist sebagian merchant dunia karena tingkat carding atau penyalahgunaan kartu kredit tinggi.
Selain untuk bertransaksi, apakah e-gold memiliki manfaat lain? Ternyata selain untuk belanja online, melakukan pembayaran, ecommerce, payroll, pembayaran tagihan dan sumbangan,e-gold juga bias digunakan untuk menyimpan emas secara frakstis dan efisien.
Tetapi amankah? Menurut e-gold, websitenya memiliki keamanan dengan secure server 128 bit SSL. Anda dapat membuka rekening tanpa dikenakan biaya halnya bila anda membuka rekening di Bank. Setelah itu Anda dapat memasukan dana Anda ke rekening e-gold dengan cara membeli e-gold dan sebaliknya anda dapat mencairkan dana e-gold Anda dengan cara menjualnya. Namun pastikan dulu, kebenaran situsnya sebelum memulai. (Smart Investing Guide edisi 17)***

E-gold amankah dan bisakah dijadikan wahana investasi?
Beragam tawaran investasi yang sering kali muncul ketika kita mencari data tentang peluang investasi. Namun perlu dicermati tawaran investasi yang sangat bertaburan di dunia maya. Tinggal bagaimana kita mampu memilih dan mencari kebenarannya.
E-gold adalah salah satunya. E-gold ini merupakan alat pembayaran digital baru yang dikeluarkan oleh E-golg ltd tahun 1996 atas inspirasi Dr. Douglas Jackson dan barry K. Downey, yang berkedudukan di Nevis.
Transaksi yang dilakukan melalui e-gold mulai berkembang dengan pesat sejak tahun 2005. E-gold ltd adalah suatu perusahaan financial ternama di dunia yang berpusat di Amerika, yang mengkhususkan dirinya pada transaksi Internet. Bisa dikatakan bahwa secara de-facto e-gold adalah mata uang di internet. Transaksi dengan menggunakan kartu kredit sangat rawan terhadap pembobolan kartu kredit. Karena e-gold menawarkan solusi pembayaran di internet yang relative lebih aman.
Cara kerja e-gold persis seperti bank-bank tradisional pada umumnya. E-gold menerima deposit dari nasabahnya, dimana nasabahnya dapat bertransaksi, transfer keluar ataupun masuk melaui e-gold persis sama seperti bank tradisional pada umumnya.
E-gold menyimpan deposit nasabahnya dalam bentuk emas, jadi ketika nasabahnya menyetorkan sejumlah uang dalam mata uang tertentu, uang tersebut akan dikonversikan menjadi emas. Mengapa emas? Karena emas adalah mata uang yang paling stabil saat ini. Jadi apabila harga emas dunia naik, nilai uang kita di e-gold juga naik, demikian pula sebaliknya.
Sebagai mata uang internet, e-gold sama halnya seperti rupiah dan dollar, tetapi bukan mata uang suatu Negara. Ini berarti tidak ada suatu Negara yang mengeluarkan uang kertas ataupun logam dalam mata uang e-gold. Transaksi e-gold dilakukan secara elektronik melalui internet. Nilai transaksi adalah berdasarkan berat emas murni berdasarkan harga emas yang berlaku di dunia.
Anda dapat merubah e-gold ke dalam bentuk mata uang lain,Alat transaksi ini sudah diakui oleh banyak merchant diseluruh dunia dalam melakukan transaksi online, dan sebagai media pembayaran yang sah. Selain itu dana di e-gold dapat ditarik melalui ATM berlogo Cirrus, Maestro dan mastercard.
Menyimpan Emas
Lewat situsnya diketahui kalau saat ini e-gold telah memiliki emas batangan senilai lebih dari 3 ton. Hamper menyamai nilai kekayaan beberapa Negara kecil, e-gold mengambil keuntungan dari biaya pencairan dan biaya simpan yang mereka kenakan kepada setiap pengguna . Jumlah pengguna e-gold ( seperti yang diklaim oleh e-gold sendiri) meningkat drastis dari satu juta pada bulan nopember 2003 meningkat menjadi 3 juta pada tanggal 22 April 2006.
E-gold ini bisa dijadikan alternative alat pembayaran digital dalam bertransaksi. eCurrency, alat pembayaran digital yang bias diterima diseluruh dunia asaat ini adalah kartu kredit. Namun pemakaiannya di internet sangat rawan, karena memunculkan masalah terutama keamanan. Apalagi Indonesia saat ini ter-blacklist sebagian merchant dunia karena tingkat carding atau penyalahgunaan kartu kredit tinggi.
Selain untuk bertransaksi, apakah e-gold memiliki manfaat lain? Ternyata selain untuk belanja online, melakukan pembayaran, ecommerce, payroll, pembayaran tagihan dan sumbangan,e-gold juga bias digunakan untuk menyimpan emas secara frakstis dan efisien.
Tetapi amankah? Menurut e-gold, websitenya memiliki keamanan dengan secure server 128 bit SSL. Anda dapat membuka rekening tanpa dikenakan biaya halnya bila anda membuka rekening di Bank. Setelah itu Anda dapat memasukan dana Anda ke rekening e-gold dengan cara membeli e-gold dan sebaliknya anda dapat mencairkan dana e-gold Anda dengan cara menjualnya. Namun pastikan dulu, kebenaran situsnya sebelum memulai. (Smart Investing Guide edisi 17)***

Investasi Emas Semakin Berkilau

EMAS Semakin berkilau, Cocok buat Investasi Jangka Panjang

Siapa yang tidak kenal emas, dari zaman nenek moyang dulu hingga kini kemilaunya tidak pernah pudar,klaunya semakin memukai saat ini.

Harga harga komoditi terus melonjak ditengah-tengah labilnya pasar pinansial global, Emas, minyak tembaga, Gandum merupakan komoditas yang terus mencapai rekor terbaru dalam perdagangan dunia. Apalagi sekarang ini tingkat inflasi semakin tinggi menyebabkan para pemilik cenderung mencari pilihan aman untuk menyimpan uang dan mengembangbiakan uangnya. Fakta membuktikan, bila terjadi inflasi tinggi, harga emas akan naik lebih tinggi daripada inflasi. semakin tinggi inflasi semakin tinggi kenaikan harga emas. Statistik menunjukan bahwa bila inflasi mencapai 10%, maka emas akan naik 13%. Bila inflasi 20 persen maka emas akan naik 20%. Tetapi bila inflasi 100% maka emas akan naik 200%. Inilah kenapa sebaiknya mempertimbangkan emas sebagai wahana investasi. Ini karena dipercaya sebagai penangkal inflasi. Semakin tinggi inflasi biasanya akan semakin baik kenaikan nilai emas yang Anda miliki. Tetapi patut dicatat bahwa harga emas akan cenderung konstan bila laju inflasi rendah, bahkan cenderung sedikit menurun apabila laju inflasi dibawah dua digit. Jadi emas hanya bagus bila terjadi inflasi moderat (dua digit ), dan akan lebih baik lagi bila terjadi inflasi hiper ( tiga digit ).

Selain itu harga emas dipatok dalam USD sehingga kita dolar menguat maka pemilik emas akan menikmati dua keuntungan. Pertama dari penguatan dolar dan kedua dari kenaikan harga emas itu sendiri.

Beragam bentuk Emas

Emas tersedia dalam berbagai macam bentuk, mulai dari batangan atau lantakan, koin emas dan emas perhiasan. Jenis emas batangan adalah yang terbaik untuk investasi karena kapanpun dimanapun Anda ingin menjualnya nilainya akan sama, nilai ini mengikuti standar internasional yang berlaku nilainya pada hari penjualan. Kemudian yang kedua adalah emas coin, dimana bentuk emas seperti ini adalah salah satu bentuk lain dari emas batangan yang sudah dibentuk menjadi koin emas murni. Yang perlu diketahui adalah koin emas bagus untuk investasi. Namun sayangnya sekarang sudah sulit dijumpai lagi di Toko toko emas. Bagaimana dengan perhiasan? Perhiasan kurang baik dijadikan media investasi. Karena perhiasan membutuhkan jasa pembuatan tertentu dan membebankan biaya pembuatan kepada pembelinya. Sehingga selain Anda membeli emasnya Anda juga akan membayar onkos pembuatannya.

Bila anda berinvestasi emas untuk jangka pendek, biasanya akan sulit mendapatkan keuntungan kalau bentuknya emas perhiasan. Karena kalau anda datang ke toko untuk membeli emas akan dikenai ongkos pembikinannya sedangkan bila anda akan menjualnya kembali maka toko tidak mau membayar ongkos pembuatannya. Ia hanya mau membayar emasnya saja. Malah masih untung sebetulnya kalau toko mau menerima emas perhiasan anda. beberapa toko kadang-kadang menolak penjualan emas perhiasan dari masyarakat penyebabya bisa macam-macam, salah satunya adalah karena mereka takut kalau-kalau emas perhiasan itu tidak laku lagi apabila dijual kembali. kalaupun mereka membelinya lagi mereka harus melebur emas tersebut. Karena itu investasi dalam bentuk emas perhiasan lebih untung kalau disimpan untuk jangka panjang.***

Rabu, 16 April 2008


PERHIASAN EMAS PUTIH PLG

Apa itu PLG?

PLG hasil temuan dari Bapak Heru Budihartono ini adalah bahan untuk membuat perhiasan yang terdiri dari campuran logam-logam Platinum Group Metal + Emas + logam logam lain, diproses dengan teknologi tinggi yang sudah dimiliki oleh PT. HWT sehingga menghasilkan perhiasan-perhiasan yang memenuhi standar kualitas setara dengan Perhiasan Emas Putih / White Gold yang ada pada saat ini, bahkan ada keunggulan dari warna dasar / natural putih mengkilap dan sama sekali tidak ada warna kekuning-kuningan, dan model-model perhiasan PLG sama komplitnya dengan perhiasan White Gold.

Untuk campuran logam pada PLG sangat diperhatikan Komposisinya, karena untuk menjaga agar tidak berubah warna kekuning-kuningan harus diimbangi dengan pemakaian logam emas yang tidak terlalu banyak. Juga diimabangi dengan logam-logam lain yang tidak mudah tergores namun tidak menggunakan unsur logam Nikel. Dan juga mengimbangi pemakaian logam Palladium yang tidak terlalu berlebihan agar warna tetap mengkilap dan warna tidak menjadi keabu-abuan.

Platinum Grup Metal adalah kelompok Logam Mulia dengan karakteristik serupa Platinum atau Platina, umumnya kumpulan logam-logam tersebut adalah : Palladium, Rhodium, Ruthernium, Osmium, Iridium.

Kadar emas di dalam PLG tidak dapat dinilai seperti kadar perhiasan emas pada umumnya, karena perhiasan emas bahan dasarnya adalah emas murni dan dicampur alloy/campuran logam lainnya sehingga kadar emasnya bisa diukur dengan satuan kadar. Sedangkan PLG adalah salah satu kesatuan Campuran logam-logam PGM dan emas, sehingga tidak dapat dinilai dengan kadar. Namun PT. Hartono Wira tanik menjamin kepada seluruh Wholesaler, retailer dengan sertifikat nilai tukar kembali senilai 30 % Harga emas.

Keunggulan dari Emas Putih PLG adalah
1. Warna dasar / Natural putih mengkilat, tidak berubah warna menjadi kekuning-kuningan maupun kehitam-hitaman.
2. Kualitas setara dengan White Gold dan Model perhiasan PLG sama komplitnya dengan perhiasan White Gold.
3. Harga hanya 50% dari perhiasan White Gold (emas 18 K )
4. PLG dapat diperjual belikan seperti layaknya perhiasan lainnya, dan bisa dijadikan sebagai jaminan Gadai.
5. PLG sudah didaftarkan Merk dagang dan HAKI nya.

Bagaimana Menguji Keaslian PLG?

Sebuah Barang yang berharga tentunya riskan terhadap pemalsuan, dibawah ini kami jelaskan petunjuk pengujian produk PLG dari PT. hartono Wira Tanik sebagai berikut:

1. Penelitihan pada fisik produk PLG, yang secara kasat mata dapat dilihat dengan jelas, atau bisa juga menggunakan kaca pembesar, dengan meneliti pada sisi badan perhiasan atau sambungan perhiasan yang berupa ring, kokot, plat, lobster atau bagian pengait perhiasan tertulis / ada cap PLG HWT atau HWT PLG.
Jadi jika Produk PLG tidak ada tanda bertuliskan PLG HWT atau HWT PLG berarti itu produk palsu dan bukan milik PT. Hartono Wira Tanik.

2. Berat Jenis (BJ) dari perhiasan Emas Putih Solid adalah 14,39 gr/cc, untuk Perhiasan Perak adalah 10,5 gr/cc sedangkan untuk PLG sekitar 11,12 gram/cc.

3. Menggunakan cara pengujian tradisional, yaitu dengan menggunakan batu cicilia Hitam, air keras (Nitrat) dan air keras emas (HCL). Cara ini adalah cara tradisional yang cukup akurat dan sampai saat ini walaupun banyak alat-alat uji yang canggih tetap saja cara tradisional ini masih dipakai. cara Pengujian ini adalah dengan cara menggosokan Produksi PLG pada batu cicilia (batu uji) sehingga membentuk garis-garis putih pada permukaan batu, lalu gosokan tersebut ditetesi air keras perak/nitrat, maka garis akan hilang dan cenderung menjadi hitam seperti terbakar, setelah itu diteteskan air keras emas/HCL pada bekas tetesan air keras Nitrat tadi, lalu cairan tersebut ditarik kebawah, maka akan terjadi reaksi pada cairan tersebut, yaitu mengeluarkan serbuk berwarna kuning, hal tersebut menunjukan bahwa produk PLG ada emasnya.

Hal yang paling mengkhawatirkan adalah pemalsuan produk PLG dengan menggunakan bahan dari Perak atau jenis logam lainnya. Tapi jika bukan produk PLG dan dilakukan cara pengujian yang sama seperti diatas akan menjadi reaksi-reaksi yang berbeda, yaitu jika dari bahan dasar perak, warna serbuk yang dikeluarkan pada cairan tersebut adalah berwarna putih.
(wiryo-disarikan dari Buku Panduan Produk Emas Putih PLG)

Senin, 14 April 2008

History of Gold



History(Au), chemical element, a dense, lustrous, yellow precious metal of Group Ib, Period 6, of the periodic table. Gold has several qualities that have made it exceptionally valuable throughout history. It is attractive in color and brightness, durable to the point of virtual indestructibility, highly malleable, and usually found in nature in a comparatively pure form.
The history of gold is unequaled by that of any other metal because of its value in the minds of men from earliest times.Because gold is visually pleasing and workable and does not tarnish or corrode, it was one of the first metals to attract human attention. Examples of elaborate gold workmanship, many in nearly perfect condition, survive from ancient Egyptian, Minoan, Assyrian, and Etruscan artisans, and gold has continued to be a highly favored material out of which to craft jewelry and other decorative object.
In nature its size could be measured start from which is not seen by eyes (some micron, one micron is permil) until some centimeter. Big sized gold, some centimeters above called nugget, generally the in form of rock. One of the famous producer of nugget is Australia. Nugget couldn�t be easily found because of its size for examples like 'Welcome Stranger' weight 7,1 kg, 53x25 cm, found in1869 in the area of Victoria, 'Hand Of Faith' weight 22,7 kg, 46x18 cm, found in the area of Victoria also in 1980th, ' Golden EagleI', 38,4 kg, 66x30cm. Because there were such a big number of nugget found in Australia so that made a lot of amateurs use detector to look for it and even there were people who managed this seeking nugget in tour packet hunt.
Gold is widespread in low concentrations in all igneous rocks. Its abundance in the Earth's crust is estimated at about 0.005 parts per million. It occurs mostly in the native state, remaining chemically uncombined except with tellurium, selenium, and possibly bismuth. The element's only naturally occurring isotope is gold-197. Gold often occurs in association with copper and lead deposits, and, though the quantity present is often extremely small, it is readily recovered as a byproduct in the refining of those base metals. Large masses of gold-bearing rock rich enough to be called ores are unusual. Two types of deposits containing significant amounts of gold are known: hydrothermal veins, where it is associated with quartz and pyrite (fool's gold); and placer deposits, both consolidated and unconsolidated, that are derived from the weathering of gold-bearing rocks.
The origin of enriched veins is not fully known, but it is believed that the gold was carried up from great depths with other minerals, at least in partial solid solution, and later precipitated. The gold in rocks usually occurs as invisible disseminated grains, more rarely as flakes large enough to be seen, and even more rarely as masses or veinlets. Crystals about 2.5 cm (1 inch) or more across have been found in California. Masses, some on the order of 90 kg (200 pounds), have been reported from Australia.
Alluvial deposits of gold found in or along streams were the principal sources of the metal for ancient Egypt and Mesopotamia. Other deposits were found in Lydia (now in Turkey) and the lands of the Aegean and in Persia (now Iran), India, China, and other lands. During the Middle Ages the chief sources of gold in Europe were the mines of Saxony and Austria. The era of gold production that followed the Spanish discovery of the Americas in the 1490s was probably the greatest the world had witnessed to that time. The exploitation of mines by slave labor and the looting of Indian palaces, temples, and graves in Central and South America resulted in an unprecedented influx of gold that literally unbalanced the economic structure of Europe. From Christopher Columbus' discovery of the New World in 1492 to 1600, more than 225,000 kg (8,000,000 ounces) of gold, or 35 percent of world production, came from South America. The New World's mines--especially those in Colombia--continued into the 17th and 18th centuries to account for 61 and 80 percent, respectively, of world production; 1,350,000 kg (48,000,000 ounces) were mined in the 18th century. (source http://logammulia.com/)

Selasa, 08 April 2008

Fungsi Emas

Firman Allah SWT:
“…… orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS.9/ At-Taubah: 34)

Dalam masyarakat yang maju, dikenal alat pertukaran dan satuan pengukur nilai untuk melakukan sebuah transaksi. Islam telah mengenal alat pertukaran dan pengukur nilai tersebut, bahkan Al Quran secara eksplisit menyatakan alat pengukur nilai tersebut berupa emas dan perak dalam berbagai ayat. Para fuqaha menafsirkan emas dan perak tersebut sebagai uang dinar dan dirham.

Dalam sejarah perekonomian Islam, uang sebagai alat pertukaran dan pengukur nilai tersebut, telah dicetak sejak zaman Khalifah Umar dan Utsman, bahkan mata uang yang dicetak pada masa Khalifah Ali masih tersimpan dalam sebuah museum di Paris. Hal ini menunjukkan bahwa dunia Islam telah mengenal mata uang jauh sebelum Adam Smith, Bapak Ekonomi Konvensional, menulis buku “The Wealth of Nations” pada tahun 1766.

Abu Hamid al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin” yang ditulis pada awal abad ke-11 telah membahas fungsi uang dalam perekonomian. Beliau menjelaskan, bahwa ada kalanya seseorang mempunyai sesuatu yang tidak dibutuhkannya dan membutuhkan sesuatu yang tidak dimilikinya. Dalam ekonomi barter, transaksi hanya terjadi jika kedua pihak mempunyai dua kebutuhan sekaligus, yakni pihak pertama membutuhkan barang pihak kedua dan sebaliknya pihak kedua membutuhkan barang pihak pertama, misalnya seseorang mempunyai onta dan membutuhkan kain.

Menurut al-Ghazali, walaupun dalam ekonomi barter, dibutuhkan suatu alat pengukur nilai yang disebut sebagai “uang”. Sebagaimana contoh di atas, misalnya nilai onta adalah 100 dinar dan kain senilai 1 dinar. Dengan adanya uang sebagai alat pengukur nilai, maka uang akan berfungsi sebagai media penukaran.

Namun demikian, uang tidak dibutuhkan untuk uang itu sendiri, artinya uang diciptakan untuk memperlancar pertukaran dan menetapkan nilai yang wajar dari pertukaran tersebut. Menurut al-Ghazali, uang diibaratkan cermin yang tidak mempunyai warna, tetapi dapat merefleksikan semua warna, yang maksudnya adalah uang tidak mempunyai harga, tetapi merefleksikan harga semua barang, atau dalam istilah ekonomi klasik disebutkan bahwa uang tidak memberikan kegunaan langsung (direct utility function), yang artinya adalah jika uang digunakan untuk membeli barang, maka barang itu yang akan memberikan kegunaan.

Pembahasan mengenai uang juga terdapat dalam kitab “Muqaddimah” yang ditulis oleh Ibnu Khaldun pada abad ke-14. Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa kekayaan suatu negara tidak ditentukan oleh banyaknya uang di negara tersebut, tetapi ditentukan oleh tingkat produksi negara tersebut dan neraca pembayaran yang positif. Apabila suatu negara mencetak uang sebanyak-banyaknya, tetapi bukan merupakan refleksi pesatnya pertumbuhan sector produksi, maka uang yang melimpah tersebut tidak ada nilainya. Sektor produksi merupakan motor penggerak pembangunan suatu negara karena akan menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan pekerja, dan menimbulkan permintaan (pasar) terhadap produksi lainnya.

Menurut Ibnu Khaldun, jika nilai uang tidak diubah melalui kebijaksanaan pemerintah, maka kenaikan atau penurunan harga barang semata-mata akan ditentukan oleh kekuatan penawaran (supply) dan permintaan (demand), sehingga setiap barang akan memiliki harga keseimbangan. Misalnya, jika di suatu kota makanan yang tersedia lebih banyak daripada kebutuhan, maka harga makanan akan murah, demikian pula sebaliknya. Inflasi (kenaikan) harga semua atau sebagian besar jenis barang tidak akan terjadi karena pasar akan mencari harga keseimbangan setiap jenis barang, karena jika satu barang harganya naik, namun karena tidak terjangkau oleh daya beli, maka harga akan turun kembali.

Merujuk kepada Al-Quran, al-Ghazali berpendapat bahwa orang yang menimbun uang adalah seorang penjahat, karena menimbun uang berarti menarik uang secara sementara dari peredaran. Dalam teori moneter modern, penimbunan uang berarti memperlambat perputaran uang. Hal ini berarti memperkecil terjadinya transaksi, sehingga perekonomian menjadi lesu. Selain itu, al-Ghazali juga menyatakan bahwa mencetak atau mengedarkan uang palsu lebih berbahaya daripada mencuri seribu dirham, karena mencuri adalah suatu perbuatan dosa, sedangkan mencetak dan mengedarkan uang palsu dosanya akan terus berulang setiap kali uang palsu itu dipergunakan dan akan merugikan siapapun yang menerimanya dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Menurut konsep ekonomi Syariah, uang adalah uang, bukan capital, sementara dalam konsep ekonomi konvensional, konsep uang tidak begitu jelas, misalnya dalam buku “Money, Interest and Capital” karya Colin Rogers, uang diartikan sebagai uang dan capital secara bergantian, sedangkan dalam konsep ekonomi Syariah uang adalah sesuatu yang bersifat flow concept dan merupakan public goods, sedangkan capital bersifat stock concept dan merupakan private goods. Uang yang mengalir adalah public goods, sedangkan yang mengendap merupakan milik seseorang dan menjadi milik pribadi (private good).

Islam, telah lebih dahulu mengenal konsep public goods, sedangkan dalam ekonomi konvensional konsep tersebut baru dikenal pada tahun 1980-an seiring dengan berkembangnya ilmu ekonomi lingkungan yang banyak membicarakan masalah externalities, public goods dan sebagainya. Konsep publics goods tercermin dalam sabda Rasulullah SAW, yakni “Tidaklah kalian berserikat dalam tiga hal, kecuali air, api, dan rumput.”

Persamaan fungsi uang dalam sistem ekonomi Syariah dan konvensional adalah uang sebagai alat pertukaran (medium of exchange) dan satuan nilai (unit of account), sedangkan perbedaannya ekonomi konvensional menambah satu fungsi lagi sebagai penyimpan nilai (store of value) yang kemudian berkembang menjadi “motif money demand for speculation” yang merubah fungsi uang sebagai salah satu komoditi perdagangan. Jauh sebelumnya, Imam al-Ghazali telah memperingatkan bahwa “Memperdagangkan uang ibarat memenjarakan fungsi uang, jika banyak uang yang diperdagangkan, niscaya tinggal sedikit uang yang dapat berfungsi sebagai uang.”

Dengan demikian, dalam konsep Islam, uang tidak termasuk dalam fungsi utilitas karena manfaat yang kita dapatkan bukan dari uang itu secara langsung, melainkan dari fungsinya sebagai perantara untuk mengubah suatu barang menjadi barang yang lain. Dampak berubahnya fungsi uang dari sebagai alat tukar dan satuan nilai mejadi komoditi dapat kita rasakan sekarang, yang dikenal dengan teori “Bubble Gum Economic”.

Namun sebenarnya, dampak tersebut sudah diingatkan oleh Ibnu Tamiyah yang lahir di zaman pemerintahan Bani Mamluk tahun 1263. Ibnu Tamiyah dalam kitabnya “Majmu’ Fatwa Syaikhul Islam” menyampaikan lima butir peringatan penting mengenai uang sebagai komoditi, yakni :
1. Perdagangan uang akan memicu inflasi;
2. Hilangnya kepercayaan orang terhadap stabilitas nilai mata uang akan mengurungkan niat orang untuk melakukan kontrak jangka panjang, dan menzalimi golongan masyarakat yang berpenghasilan tetap seperti pegawai/ karyawan;
3. Perdagangan dalam negeri akan menurun karena kekhawatiran stabilitas nilai uang;
4. Perdagangan internasional akan menurun;
5. Logam berharga (emas & perak) yang sebelumnya menjadi nilai intrinsic mata uang akan mengalir keluar negeri.

Perdagangan uang adalah salah satu bentuk riba yang lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Untuk itu, marilah kita kembali kepada fungsi uang yang sebenarnya yang telah dijalankan dalam konsep Islam, yakni sebagai alat pertukaran dan satuan nilai, bukan sebagai salah satu komoditi, dan menyadari bahwa sesungguhnya uang itu hanyalah sebagai perantara untuk menjadikan suatu barang kepada barang yang lain.

Dengan demikian, maka dalam praktek sebuah Bank Syariah yang benar, Bank bukan menjual-belikan uang tetapi adalah menjual-belikan barang dan atau berbagi hasil dalam sebuah kemitraan usaha guna menghindari perubahan fungsi uang dari alat pertukaran dan satuan nilai menjadi komoditi.

Penulis: MERZA GAMAL (Pemerhati Sosial-Ekonomi Syariah)